Selasa, 10 Juni 2014

Syair 'Tuhan Sembilan Senti'



Tuhan Sembilan senti
Oleh : Taufiq Ismail

Indonesia adalah surga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Di sawah petani merokok,
Di pabrik pekerja merokok,
Di kantor pegawai merokok,
Di reses parlemen anggota DPR merokok,
Di Mahkamah agung yang bergaun toga merokok,
Hansip – Bintara - Perwira nongkrong merokok,
Di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
Di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
Di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
Di perkuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok,
Tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
Di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
Di kampus mahasiswa merokok,
Di ruang kuliah dosen merokok,
Di rapat POMG orang tua murid merokok,
Di kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntutan cara merokok,

Di angkot kijang penumpang merokok,
Di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
Di loket penjualan karcis orang merokok,
Di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
Di kapal peyeberangan antar pulau penumpang merokok,

Negri kita ini sungguh nirwana
Kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
Tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
Di warung tegal pengunjung merokok,
Di restoran di toko buku orang merokok,
Di café di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
Bayangkan istri-istri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
Ketia melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
Saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
Tapi kita tidak ketularan penyakitnya,

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
Mengepulkan asap rokok di kantor atau distopan bus,
Kita ketularan penyakitnya,

Nikoton lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah surga kultur
Pengembangan nikotin paling subur didunia,
Dan kita yang tak langsung menghirup sekalipun asap tembakau itu,
Bias ketularan kena,

Di puskesmaa pedesaan orang kampong merokok,
Di apotek yang antri obat juga merokok,
Di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
Di ruang tunggu dokter, pasien merokok,
Dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
Di pinggir lapangan voli orang merokok,
Menyandang raket badminton orang sambil merokok,
Pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
Panitia pertandingan balap mobil,
Pertandingan bulu tangkis,
Turnamen sepak bola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
Sambik ‘ek-ek’ orang goblok merokok,
Di dalam lift gedung 15 tingkat
Dengan tak acuh orang goblok merokok,
Di ruang siding ber-AC penuh,
Dengan cueknya pake dasi,
Orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
Sangat ramah bagi orang perokok,
Tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
Bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuh ruang siding ber-AC penuh,
Duduk sebuah ulama terhormat merujuk
Kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli “hisap”
Haasaba-yuhaasibu-hisaaban
Bukan ahli hisab ilmu falaq
Tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
Terselip berhala-berhala kecil,
Sembilan senti panjangnya, putih warnanya,
Kemana-mana dibawa dengan setia,
Satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,


Mengintip kita dari balik jendela tuang siding,
Tampak kebanyakan mereka
Memegang rokok dengan tangan kanan
Cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Inikah gerangan bertanda
Yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
Dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul
Di ruang AC penuh tiu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz
Laa tasyrobut dukhoon,  ya ustadz
Kiyai ini ruangan ber-AC penuh
Haadzihi al-ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i
Kalau tak tahan, diluar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum, min fadhlik, ya ustadz.

25 penyakit ada dalam khamar.
Khamar diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi)
Daging khinzir diharamkan.
4.000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok,
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yukharrimu ‘alaihimul khabaaitho.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
Karena pada zaman Rasulullah dahulu,
Sudah ada alcohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,

Jangan,
Para ulama ahli hisap terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
Yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berpikir
Biarkan mereka berpikir.
Asap rokok diruangan ber-Ac itu makin pengap dan ada yang mulai tebatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan pada malam hari ini,
Sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena rokok.
Korban penyakit rokok lebih dasyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.
Lebih gawat ketimbang korban bencana banjir, gempa bumi dan longsor,
Cuma setingkat dibawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
Berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negri kita, jutaan jumlahnya,
Bersumbunyi di dalam kantong-kantong baju dan celana,
Di bungkus dengan kertas berwarni dan berwarna,
Di iklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayamum menyucikan diri,
Tidak perlu rukuk atau sujud unutk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
Karena orang akan khusuk dan fana
Dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajenasap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan unutk menghadapi berhala-berhala ini.


sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran”
(Az-zumar(39):9)

0 komentar:

Posting Komentar

"Untuk Pribadi Yang Menawan Yang Telah Mengajarkan Bagaimana Memberi Nyawa Bagi Sebuah Impian Yang Penuh Semangat Dan Impian yang Bernyawa"